• haroldhd2000

Odading mang oleh, rasanya Anj**g banget. Maneh balad aing teu?

Halo semua nya. kembali lagi ke blog HDT. Pasti ada sedikit kejanggalan yang di rasakan, tumben pakai bahasa Indonesia? Ya, konten kali ini masuk ke channel The Daily Driver, channel yang akan membahas hal-hal yang di rasakan menarik di akhir-akhir ini dari berbagai sudut pandang. pembahasan nya akan lebih ringan, dan akan menggunakan bahasa Indonesia. sejujurnya artikel pertama dari The Daily Driver seharusnya bukan ini, namun ide untuk mereview salah satu konten yang lagi viral di Indonesia, sangat menggelitik untuk di analisa dari sudut pandang marketing. Jadi, mari kita mulai pembahasan kali ini.


Saya rasa kalian sudah tidak asing lagi dengan video durasi +/- 26 detik yang sekarang sedang viral di Indonesia, video review odading mang oleh by kang (panggilan abang/kakak dalam bahasa Sunda) Ade Londok. Video yang menceritakan bagaimana kang Ade mereview makanan odading (makanan seperti donat tanpa lubang biasanya rasanya manis) dengan logat Sunda yang sangat kental namun menggunakan kata-kata umpatan yang sebenarnya tidak elok di dengarkan oleh seluruh masyarakat terutama anak kecil.


Hampir semua pasti sepakat bahwa video ini sangat khas, jenaka dan memancing kita untuk berkomentar atau bahkan menjadi ingin mencoba makanan tersebut karna ekspresi kang Ade yang sangat paripurna. Bahkan, sampai tulisan ini di buat, sudah cukup banyak beredar video yang menunjukkan betapa mengantri nya orang yang mau membeli odading mang Oleh saat ini. luar biasa efek viral nya!


Dalam tulisan kali ini, saya tertarik untuk mengomentari dan sedikit menganalisa kenapa video tersebut bisa sampai viral dan akhirnya untuk saat ini bisa mengundang pembeli yang banyak. Menyadur dari salah satu buku karangan Jonah Berger berjudul Contagious , setidaknya ada 4 alasan kenapa sebuah konten bisa menjadi viral :

  1. Social currency (keinginan re share konten karena ada unsur kebaikan di dalam nya)

  2. Emotion (keinginan re share konten karena ada elemen yang bisa memicu emosi seperti sedih, senang, dsb)

  3. Practical (keinginan re share konten karena ada sesuatu yang berfaedah di dalam nya)

  4. story telling (keinginan re share karena ada "cerita" di dalam nya)

Dalam sudut pandang saya, ada beberapa hal yang membuat video review odading tersebut bisa menjadi viral :

  1. Emotion. Sejalan dengan point ke dua dari teori di atas, video review tersebut membawa unsur jenaka. Sesuatu yang menurut saya sangat di butuhkan karena pandemi yang tak berkesudahan.

  2. Culture. Populasi warga jawa barat yang biasa menggunakan bahasa Sunda ataupun orang non jawa barat yang bisa berbahasa sunda akan dengan mudah mengenali konten dengan bahasa yang di gunakan. ke aku an / kesamaan kultur dan budaya dengan sang pembuat konten menghasilkan keinginan netizen untuk meng ekspos konten ini dengan tambahan komentar dari netizen.

  3. Strata sosial. Tidak bisa di pungkiri odading dan kang Ade menampilkan sebuah strata yang notabene salah satu yang paling banyak populasinya di Indonesia. Dengan kesamaan strata sosial ini, membuat Netizen dan pembuat konten memiliki kesamaan, merasa sepenanggungan dan merasa konten ini mewakili diri saya.

  4. Momentum. Salah satu punch line dari video ini adalah "Odading mang Oleh, rasanya anjing banget". Yes, menurut saya "Anjing" adalah momentum. Beberapa minggu sebelum konten ini, kita masih bisa mengingat betapa kata "Anjing" yang di asosiasikan menjadi "Anjay" ini sempat di bahas besar-besar an di media sosial karna di anggap tidak baik oleh salah satu konten kreator di Indonesia. Respon netizen waktu itu jelas-jelas menolak idealisme konten kreator ini. Good news untuk kang Ade, kata "Anjing" yang jadi punch line di videonya sudah top awareness nya di telinga masyarakat. di tambah lagi, beberapa artist voice over meng over-expose kan punchline tersebut ke dalam versi nya masing-masing sehingga makin menasbishkan bahwa kata-kata "Anjing" atau "Anjay" merupakan bahasa yang biasa di gunakan dalam bahasa sehari-hari. seakan-akan ingin menampar muka sang konten kreator yang sempat mempermasalahkan bahasa tersebut.

Dalam ceklist saya, video odading mang Oleh by kang Ade setidak nya memenuhi point no 1,2 dan 4 dari teori Jonah Berger di atas.


Singkat cerita, terlepas dari virality (cara sebut viral dengan bahasa saya) konten tersebut, apakah bisa menjamin penjualan dari odading mang Oleh bisa naik? untuk saat ini jelas saya katakan, YES! apakah sustainable? NOT SURE. karna untuk bisa mendapatkan sustainable revenue banyak hal yang perlu di olah dan di perhatikan. saya bukan food reviewer, namun komponen seperti rasa, kualitas bahan baku, cara masak, harga, lokasi, dll menentukan sustainable sales di industri makanan.


Banyak yang akan mengatakan bahwa, "ah, si mang Oleh dan kang Ade mah kebetulan / beruntung aja jadi viral, jualan odading nya juga paling laku sesaat". but hey, you have to remember :

Rumus keberuntungan itu adalah strength + opportunity (baca : momentum)

Sometimes, sebuah bisnis / konten hanya membutuhkan satu momentum untuk dapat membalikkan nasib seseorang. So, ketimbang kalian nyinyir keberuntungan orang lain, lebih baik kita menikmati konten tersebut dengan sebuah odading dan segelas kopi/teh untuk mensyukuri apa yang bisa kita nikmati saat ini. kalau di saya, ya menikmati dan mensyukuri anda sekalian baca tulisan saya sampai titik ini.

Maneh balad aing teu?



91 views2 comments