• haroldhd2000

Pandemic After Effect to Mid 2021 Indonesian Automobile Industry. An Analysis.

Halo, selamat datang kembali ke HDT blog. Rupanya benar kata orang, melakukan sesuatu yang konsisten itu susah. Dalam hal ini nulis blog secara konsisten rupanya gak semudah membalikkan telapak tangan. Salut sama rekan-rekan penulis, wartawan, dll yang bisa secara rutin dan konsisten bisa mengeluarkan tulisan. But, here we go! Please enjoy my latest essay right here, right now. But first of all, pas tulisan ini di muat, Indonesia lagi dalam second wave Covid-19, so please stay home folks, i wish u a good health.


Hari ini kita akan membahas topik yang masih hangat. Iya, hangat karna saya baru aja dapet datanya. baru sempet review tepatnya :) . Oke, hari ini kita akan bahas performa semester 1 industri otomotif R4 tahun 2021 di Indonesia dan bagaimana efek dari pandemi ini ke industri otomotif R4 Indonesia. Industri Otomotif adalah industri yang sangat disayang oleh pemerintah karna tak henti-henti nya disupport dengan incentive PPNBM yang diperpanjang periodenya. Same case dengan industri properti yang diperpanjang insentif PPN nya sampai akhir tahun. Dari case ini saya jadi melihat, rupanya industri kendaraan bermotor nyaris setara dengan industri papan (sandang, pangan, papan). Bangga juga saya bisa bergelut di dunia otomotif ini.


Kembali ke topik, secara garis besar, penjualan otomotif R4 selama semester 1 ini masih tertekan. salah satu alasan kenapa saya katakan tertekan karena rata-rata penjualan year to date (YTD) sampai dengan Juni 2021 dibandingkan tahun 2019 (sebelum pandemi covid) masih minus 26% (catatan retail sales). Memang, jika kita bandingkan YTD June 21 VS YTD June 20 angka penjualan membaik (naik) 33% dari catatan retail sales. Namun, kondisi ini tidak bisa di katakan bahwa industri otomotif sudah baik, we still at a-not-okay condition. Sedikit lebih dalam lagi, perbandingan data rata-rata penjualan selama pandemi dengan kondisi sebelum pandemi (sample tahun 2019) juga menunjukkan angka yang tidak membanggakan. berdasarkan catatan retail sales (RS) rata-rata penjualan selama pandemi masih minus 43% dibandingkan sebelum pandemi. Situasi yang sangat berat bagi industri ini.


bergerak ke data masing-masing segmen, basic question yang seringkali muncul adalah apakah ada segmen yang berkembang atau setidaknya survive di era pandemi dibandingkan dengan era sebelum pandemi? jawabannya sih tidak ada. Tapi segmen yang lebih resist di era pandemi ini, ada donk. Ada beberapa segmen yang kalau kita lihat dari data lebih baik penurunan marketnya di bandingkan total market nasional. Mari kita bedah satu per satu.


Salah satu segmen yang paling kuat menahan gempuran pandemi adalah segmen SUV medium. Segmen yang di isi oleh pemain-pemain senior seperti Toyota Rush, Daihatsu Terios, duet Honda BRV dan HRV, Mitsubishi Xpander dan Suzuki XL7 ini mampu mencatat hanya turun 23% secara rata-rata penjualan selama pandemi jika dibandingkan selama sebelum pandemi (sample waktu tahun 2019). Kuat juga segmen ini, apakah karna kekuatan market nya setara dengan nama besar SUV nya? menarik dipelajari kedepannya. Namun, secara singkat bisa kita asumsikan bahwa hal ini tidak lah terlalu aneh. gelombang trend SUV yang berbondong-bondong terjadi di berbagai market global memang membuat segmen ini masih sangat menarik untuk dilirik oleh masyarakat pada umumnya. Komposisi model mobil yang menarik dan cocok dengan medan Indonesia, maskulinisme segmen dan bentuk, harga yang bersaing membuat segmen ini lebih kuat dibandingkan segmen lain.


diurutan kedua ada segmen komersial di pick up medium 4x2 yang dihuni oleh Mitsubishi L300, Toyota Hilux, Isuzu dll yang marketnya hanya turun 23% atau sama dengan SUV medium. Dititik ini, kita harus cukup berbangga karena segmen ini adalah segmen produktif. Artinya, dengan lebih baiknya penurunan market ini, berarti menunjukkan roda ekonomi Indonesia masih berjalan, proyek-proyek masih berjalan. Sejalan dengan segmen pick up medium 4x2, segmen komersial pick up low juga hanya turun 24%. Market yang berisikan Suzuki Carry, Daihatsu GranMax dll kembali masih menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan market pada umumnya.


Di segmen selanjutnya kembali diisi oleh Pick Up 4x4 yang diisi oleh Mitsubishi Strada, Toyota Hilux dan Isuzu D-Max yang penurunannya sama dengan pick up low. Bisa kita lihat dari 4 market yang mengalami penurunan hanya dikisaran 20 an persen, 3 nya dari segmen komersial. terlepas dari turunnya market Indonesia, pergerakan ini masih tergolong bagus, sinyal yang bagus bagi pergerakan ekonomi Indonesia. Kita masih punya harapan yang besar karena segmen komersial kita lebih tangguh.


Selanjutnya, segmen yang survive di level 30% an berturut-turut dapat dijabarkan sebagai berikut. Segmen cab over / bonet yang diisi oleh Suzuki Carry dan APV Luxio dan GranMax hanya turun 36%. Segmen ini sebenarnya segmen yang cukup unik, karna in real market terbelah menjadi market komersial dan passanger car. Namun, dilihat dari datanya komersial lebih dominan dengan kontribusi sekitar 70%-80%. Selanjutnya ada SUV high yang berisikan oleh Mazda CX-5, Toyota Corolla Cross, Hyundai Palisade dll mencatatkan penurunan hanya sebesar 37%. beda tipis dengan segmen cabover / bonet. Di angka yang sama dengan penurunan sebesar 38% ada segmen sedan yang terdiri dari sedan mini seperti Toyota Vios & Honda City dan sedan small yang dihuni oleh Honda Civic dan Toyota Corolla Altis. Cukup menarik kenapa segmen Sedan ini masih lebih baik turun nya di bandingkan segmen-segmen yang lain. sudah berpuluh tahun, segmen sedan ini biasanya terselamatkan oleh proyek Taxi. Preferensi produk masyarakat Indonesia sebenarnya sudah lama move on dari market ini, that's why lebih baik nya penurunan ini menjadi menarik untuk ditelaah lebih lanjut.


Lalu bagaimana sisa segmen yang lain? to be honest, semuanya tumbang cukup keras. mari kita absen satu-satu : city car turun 44%, LCGC turun 48%, Low MPV turun 60% (Whaaattt??), Hatchback turun 51%, Bonet Medium turun 44%, Bonet High 52%, Sedan Medium turun 40%, Lighttruck 2 Ton turun 42%, Lighttruck 5 Ton turun 61%. kacau ya?


Uniknya, ada loh market yang hanya turun 17%. Memang bukan market besar (niche), but gave me a clue. Market ini disebut SUV 4x4 yang dihuni Pajero Sport, Fortuner, BMW Seri X, dll. Segmen nya orang keren-keren yang sempet naik issue nya beberapa bulan lalu karena case dorr dorr.. :( kalau kata orang banyak, ini marketnya orang-orang kaya yang perlu eksistensi diri, rupanya orang kaya gak terlalu kena efek pandemi secara finansial ya? udah ah, jangan Julid.

Terlepas dari penurunan penjualan yang ada, ada satu issue lain yang menerpa industri otomotif dunia dan Indonesia, yaitu kelangkaan semikonduktor / microchip. Kelangkaan ini disebabkan oleh beberapa hal :

  1. Permintaan pasar yang naik drastis dari segmen elektronik seperti TV, komputer, komputer jinjing dll di era pandemi

  2. Adanya kecelakaan kebakaran pabrik di salah satu produsen chip di Jepang

Dengan 2 case tersebut, membuat supply komponen semikonduktor untuk industri otomotif menjadi terganggu secara global dan Indonesia.


Oke, case ini jadi seperti membuat industri ini seperti sudah jatuh tertimpa tangga ya. So, what should brand do buat menanggulangi VUCA market dan kondisi support system yang tidak kondusif? IMHO :

  1. Re-focus and re-target ing bisnis otomotif. Salah satu clue dari beberapa pencapaian market diatas adalah penjualan yang lebih baik disegmen yang masih populer di Indonesia seperti SUV. I know this point of view is easier said than done, but i'm not done talkin. let's take a look at point of 3.

  2. United. Semua lini kegiatan yang ada di masing-masing brand harus bersatu padu untuk adjust semua kegiatan nya ke satu tujuan yang sudah ditetapkan bersama.

  3. Dynamic! Iya, yang namanya produksi barang tidak mudah. Semua lini produksi memiliki schedule saklek yang patut dijalankan tanpa kurang satu apapun. Namun, dengan adanya shifting demand seperti ini team produksi harus bisa dinamis adjust dan shifting produksi ke produk yang lebih sale-able.

  4. Elastic. Iya, tau. Pandemi memang membuat semua lini menjadi deform. Bisa jadi bisnis menjadi lebih lamban bergerak, insufficient resources, dll. Atas dasar itu, diperlukan mental untuk recover secara cepat kondisi usaha agar bisa berjalan seperti semula. Jangan malas kalau mau survive.

So, emang untuk bisa survive sometime we have to play rude / nasty, so that's why the solution that i offered is being RUDE!!


Selain bebrapa catatan di atas, untuk bisa menyelamatkan dan get a high potential rebound dari market ini, perlu dilakukan aksi-aksi yang tidak hanya di lakukan oleh para pelaku industri namun harus ada dorongan pemerintah yang bisa saya rangkum sebagai berikut :

  1. Transfer Teknologi. Pemerintah harus membuatkan sebuah aturan main akselerasi transfer teknologi yang konkrit yang perlu dilakukan oleh para investor (brand otomotif) agar sumber daya manusia Indonesia lebih advance dan bisa memliki set of knowledge setara dan bisa proaktif dan bersama-sama untuk memajukan industri ini.

  2. Akselerasi infrastruktur jalan dan toll. Tidak bisa dipungkiri dasar dari industri otomotif adalah mobility. Perpindahan manusia / barang dari titik A ke titik B. Dari pemikiran dasar tersebut, maka infrastruktur jalan dan toll akan menjadi krusial karna akan memudahkan mobility tersebut. Terbukti dengan akselerasi jalan di wilayah Jawa, Sumatra dan Papua bisa menambah akselerasi penjualan ditempat saya bekerja. Bahasa researchnya ada korelasi positif signifikan lah ya.

  3. Tax incentive di support system industri. Iya, pemerintah sebaiknya tidak hanya melihat APM dan masyarakat yang harus di berikan incentive, tapi industri pendukungnya juga. satu merek APM saja bisa di support oleh 200 lebih perusahaan untuk bisa membuat satu mobil. Bayangkan seberapa besar industri yang ada dibelakang layarnya.

  4. Government relation. Iya, untuk mendukung point 1, ada baiknya government meng akselerasi koordinasi dengan para APM dalam hal action apa saja yang harus dibuat oleh masing-masing APM. I know we have Gaikindo, but government should push by themself if they want a good rebound on it.

Okeh, sudah 6 min read duration, saya rasa saya sudahi saja dulu blog saya disini biar gak kepanjangan, nextnya menarik bahas yang tadi saya quote. Please do not hestitate to comment or critics on the section below ya supaya bahasan blognya lebih mantep lagi kedepan nya.

Thank you, stay safe and healthy folks!


69 views0 comments