• haroldhd2000

Emily in Paris, Perspective Bisnis dari Film yang Menggugah Panca Indera.

Hi, selamat datang kembali ke blog HDT. kali ini kembali di channel The Daily Driver kita akan membahas sebuah sudut pandang yang menarik dari film yang baru saja hype di platform TV Streaming Netflix dengan judul Emily in Paris. Sebuah film yang sedang hype terutama di kalangan wanita dan anak muda pendukung kaum rebahan (just kidding, why so serious?).


Emily in Paris merupakan sebuah film seri yang menceritakan tentang bagaimana seorang wanita bernama Emily Cooper yang tiba-tiba harus bertugas di Paris sebagai utusan representasi dari sebuah perusahaan agency pemasaran yang berdomisili di Chicago. Sebagai representasi kantor pusat untuk mendukung anak perusahaannya, Emily memiliki beban moral untuk bisa meningkatkan performa bisnis dalam kurun waktu 1 tahun. Sayang, seiring berjalan nya waktu, Emily mengalami banyak gangguan dalam kehidupannya di kota Paris seperti diputusin pacar, rekan kerja yang kompor dan tukang gosip, bos yang galak sampai budaya amerika yang tidak nyambung dengan budaya Paris. Plot cerita film ini di gambarkan dengan ringan dan mengumbar keindahan kota Paris yang sangat atraktif, kultur orang paris yang digambarkan penuh dengan intrik dan keengganan nya menerima budaya luar serta isu percintaan yang membuat film ini makin kompleks namun tetap renyah untuk di konsumsi bersama kudapan malam.


Film ini menuai banyak apresiasi dari khayalak ramai sampai-sampai menjadi top rated Netflix film sejak ditayangkan 2 Oktober kemarin. Terlepas dari teknik pembuatan film dan segala kompleksitasnya, menurut saya ada beberapa hal yang membuat film ini menjadi primadona akhir-akhir ini. apa saja, here we go!

  1. Half an hour movie set. berbeda dengan format film seri kebanyakan, film ini membuat durasi setiap serinya kurang lebih di 30 menit. sebuah waktu yang sangat kompetitif untuk di konsumsi di sela istirahat jam kantor, sebelum tidur ataupun pada saat rehat sore hari. menurut saya ini salah satu unique selling point dan key sucess factor dari pengemasan film ini. Komentar yang sering keluar adalah "gak kerasa ya film nya". apakah ini bisa menjadi standard baru di dunia film seri ke depan? let see.

  2. Perfect timing deployment during pandemic. Ya, tidak bisa dipungkiri, di situasi yang tidak kondusif dikarenakan pandemi Covid-19 membuat orang membutuhkan sebuah hiburan yang segar namun tetap thoughtful. Film yang di kemas dengan ringan dan dilengkapi dengan unsur-unsur humanis seperti komedi, percintaan, dll membuat film ini laris di konsumsi. Apalagi buat sebagian kalangan marketer, film ini menyajikan ide-ide segar yang bisa ditiru oleh mereka.

  3. European expose. Kalau di perhatikan, set dari film seri yang belakangan muncul banyaknya didominasi oleh budaya-budaya amerika dan korea. Film seri yang menampilkan budaya eropa seperti Dark, Ragnarok, Money Heist dll menjadi sebuah angin segar di penatnya budaya amerika dan korea yang sudah banyak di expose. Apalagi European expose ini ditambah dengan pencitraan kota Paris yang eksotis yang sangat diimpikan oleh banyak orang. beruntung saya sudah cukup puas mengunjungi kota tersebut bersama istri tercinta pada saat honeymoon kemarin *wink (walau pas nonton film ini sering terlontar kata-kata, kita ke Paris lagi yuks?! kacau dah!)

Terlepas dari kemasan yang menarik, surprisingly film ini menawarkan insight yang berbobot di dalamnya, terutama dari sisi bisnis. Ada beberapa elemen bisnis seperti yang ada di dunia HR, Marketing dan Ads yang bisa saya tangkap seperti di bawah :

  1. Culture shock. Salah satu hal paling dasar dalam sebuah bisnis atau organisasi adalah bagaimana memanage lingkungan bisnis yang memiliki kultur yang beragam. Dengan keragaman kultur yang ada, bisa saja performa bisnis menjadi tersendat atau bahkan tidak jalan sama sekali. dalam film ini dibahas bagaimana kultur yang dimiliki oleh Emily yang bergaya Amerika tidak sepenuhnya sejalan dengan kultur dari boss nya yang bernama Sylvie yang notabene memiliki kultur perancis. Banyak sekali pertentangan kultur antara Emily dengan seluruh ekosistem yang ada di perancis tersebut. Dari mulai ketidaklancaran bahasa, pola komunikasi, gaya dandan, dll. Sedikit berbeda dengan kebanyakan film yang menampilkan generation gap, di film ini bos dan anak buah terlihat berbeda umur relatif jauh digambarkan tidak memiliki generation gap yang berarti. Hanya saja set of mindset dan knowledge yang memang berbeda sehingga terjadilah perbedaan pendekatan dalam pola kerja yang ada.

  2. Respect the root. Sejalan dengan point 1, sekali lagi salah satu yang harus di perhatikan dari sebuh bisnis adalah melihat kultur dasar dari bisnis atau organisasi tersebut. Seringkali sebagai orang baru atau entitas baru dalam bisnis atau organisasi mereka membawa kultur / kebiasaan asalnya, dan seringkali hal ini membuat keadaan menjadi bentrok. Banyak sekali tersebar dalam film ini dimana Emily tidak mampu mendemonstrasikan pemikirannya yang global (cenderung memaksakan ideologinya walau kebanyakan pendekatan nya berhasil) dan sering terlihat bentrok dengan lawan mainnya. Satu kasus yang paling menarik ketika salah satu client nya ingin membuat iklan perfume dimana sang client menganggap storyboard yang ada adalah seksi namun Emily menganggap itu adalah seksis. Siapa yang benar tonton aja filmnya. Jangan sampai saya spoiler sampai konten yang ada.

  3. Customer engagement. Point ini yang paling saya kagumi dari film ini. Sungguh tidak menyangka bahwa film ini membawa sudut pandang bisnis terutama di dunia marketing yang sangat banyak dan di eksploitasi selain dari sisi cinta dan keindahan kota Paris. sebut saja seperti teknik copywriting, teknik bersosial media, teknik creative, teknik buat iklan dan lain lain membanjiri film seri ini. Bahkan yang saya tangkap di setiap episodenya ada makna-makna tersurat dari sebuah teknik marketing dan brand yang di expose di dalam nya. Menarik, saya pribadi jadi banyak belajar dari film ini.

Dari total keseluruhan film ini, sangat menarik untuk di nanti season 2 dari film seri ini. kalau berkaca dari kebiasaan film seri, season 2 merupakan season yang paling bagus dimana dari segi konten masih memiiliki ideologi film dasarnya namun dikemas dengan lebih marketable. saya pribadi gak akan penasaran sampai season 3 karna biasanya plot ceritanya sudah maksa dan sudah keluar dari ideologi film awalnya.


So, bagi kalian yang belum sempet nonton, silahkan di tonton film seri ini sembari di temani kudapan favorit anda. Kalau saya jelas, nonton ini ditemani sama wafer Nissin coklat favorit saya sejak kecil. gak kerasa 1 season habis 2 kaleng. Selamat menonton.


Stay safe and healthy folks!


PS : Hati-hati nonton film ini bersama pasangan, bisa-bisa di todong buat pergi ke Paris karna envy dengan seluruh cinematika Paris yang di expose dengan luar biasa. salut sama DOP nya.

113 views0 comments